Paling seru adalah obrolan kami mengenai agama "nek ngomongke agama ki tekan suk esuk yo ra rampung cil" ini beberapa bagian dr cerita kami dan diskusi kami.
Sering yaa denger kata 'berdoa sesuai agama dan keyakinan masing masing'? Jd tau apa bedanya agama sama keyakinan. Keyakinan yang dimaksud disini kadang kurang dimaknai dan seringkali di deskripsikan sebagai animisme dinamisme tahayul dsb. Tp kok kalau dikorelasikan dg jaman sekarang, keyakinan itu bagian dr agama ya. Gini deh biar lebih sederhana, to the point aja, kita seagama, sama sama islam, tp kita seringkali dihadapkan pada keyakinan yang berbeda, hemmm dalam hal ini yang berbeda adalah ibadah muamalah yaa, kalau ibadah mahdhah itu memang sudah diatur jelas dalam alquran kan yaa :)
Ini lho yang sering kita hadapi, perbedaan dalam menafsirkan dalil. "Jenenge yo ilmu tafsir to cil, yo berarti terserah sing nafsirke" iya juga yaa hahahaha. Dan celakanya, penafsiran inilah yang seringkali memecah belah islam sendiri. Sebagai contoh besarnya, muhammafiyah dan NU, 2 aliran ini sebenernya hanya berbeda dalam penafsiran, terutamaterkait dengan bid'ah. Muhammadiyah menurut saya, sangat berhati hati sekali dengan yang namanya bid'ah. Makanya jarang sekali kita temui, bahkan mungkin hampir tidak pernah, kita mendengar orang solawatan, atau baca quran dengan pengeras suara dimasjid masjid ber genre muhammadiyah (genreee~~~) karena, itu termasuk bid'ah menurut ajarannya. Namun suasana sangat berbeda saat kita berkunjung ke masjid NU, bacaan quran dg lantang diperdengarkan, solawatan nggak henti henti dengungkan. Itu cuma salah satu perbedaan pandangan dalam 2 aliran ini.
Hemmmm jd bingung kalau ditanya soal "kamu muhammadiyah apa NU?" Ya nggak? Kalau aku jawabnya sih "saya islam dengan keyakinan saya" hahahaha songong yaa. Lho? Lha salahnya apa? Orang dalam agama juga ada kok ilmu tafsir. Tp ya nggk boleh sembarangan yaa menafsirkannya, aku juga belum mampu lah jd istilahnya apotekernya hati. Alquran itu assyifa, arinya obat atau penawar, nah manusia (dalam konteks ini saya) adalah si pesakitan, saya nggak bisa lah njuk ujug ujug minum obat ini obat itu semau saya, saya butuh apoteker. Iya, ulama, ustad, itulah apoteker kita. Tp kita sebagai seorang pasien juga harus cerdas, siapa sih yang jamin apoteker itu bener ngeracik obatnya. Maka dari itu, kembali lagi, agama itu juga masih mempersoalkan mengenai "keyakinan masing masing"
Rumit ya. Iyaaa. Aku we sakjane bingung nulis iki. Masih perlu banyak belajar hahaha :))
No comments:
Post a Comment