Apa yang Anda dapat dari cerita singkat diatas? Saya akan mencoba menelisik dari sudut pandang saya yang mungkin aneh hehe. maafkan jika tidak berkenan. Itulah bedanya beliau dengan kami, pemikiran beliau dibebaskan sejak usia beliau 12 tahun. Sedangkan (maaf) kami, generasi muda saat ini, dipaksa untuk mengkotak kotakkan pemikiran kami, melalui apa? sekolah. iya, sekolah dengan sekarang wajib belajar 12 tahun. Dalam waktu dua belas tahun itulah raga kami dibebaskan untuk menuntut pendidikan sedangkan pemikiran kami dikerdilkan. Kami dipaksa untuk membenarkan setiap penggal kata yang di jejalkan. Kami dipaksa untuk berkata iya pada setiap apa yang menurut sipendidik benar. Karena kami adalah sampah apabila tidak mengikuti setiap rules yang ada. Kami dianggap pemberontak jika memakai sepatu putih, Kami dianggap preman jika tawuran, dan kecerdasan kami hanya dinilai dari besar kecilnya angka di dalam sebuah buku yang selanjutnya tak bermakna lagi setelah kami berhasil keluar dari kungkungan penjara itu. Miris ya. Iya, dan saya baru menyadarinya sekarang. Mengapa generasi muda ini tidak sekritis para pendahulu? Karena kami sebenarnya dipenjara dalam sistem yang dinamakan pendidikan. saya bukan meyalahkan pendidikan, saya menyalahkan sistem pendidikannya.
Sebagai contoh, kita mempelajari bahasa inggris mulai dari SD kelas 1 sampai dengan SMA kelas 12. 12 tahun meenn. sudah fasih? sudah bisa ngomong cas cis cus inggris, toeflnya sudah 500?? 12 tahun, dan sering kali banyak yang menambahkan jam pelajaran bahasa inggris melalui kursus kursus, namun masih saja, bahasa inggris belum melekat pada masyarakat kita, dalam konteks ini pemuda. 12 tahun, salah siapa?
Setelah duduk dibangku kuliah ini pula saya lebih memahami peristiwa reformasi. Reformasi, wujud dari betapa kuatnya mahasiswa, betapa hebatnya sebuah generasi menyuarakan aspirasinya, wujud betapa sayang dan cintanya generasi muda pada negaranya. Dan itu sangat luar biasa, jika boleh saya memilih, saya memilih hidup di zaman itu dan berjuang (sok banget sih cil) hahaha. Pada zaman itu, pemerintah disadarkan, betapa "berbahaya"nya suara mahasiswa, betapa "ganas"nya pemikiran mereka. Anehnya, sekarang, zaman sekarang ini, suara mahasiswa seakan mati. Dan saya sebagai mahasiswapun sadar, mahasiswa zaman sekarang sudah mulai apatis (count me in) hehe. Menganggap nilai A B C D adalah segala, hidup di dunia perkuliahan adalah antara gelar cumlaude dan ga cumlaude (setidaknya itu yang saya rasakan dilingkungan saya) dan impian kerja di perusahaan multinational dengan gaji puluhan juta adalah kebanggaan yang layak diapresiasi oleh semesta. Maafkan saya yang masih idealis dalam hal ini. hehe tapi itulah faktanya di lingkungan saya. Pemikiran kami kembali dipenjara di dalam badai tugas tugas kuliah dan materi kuliah yang seabrek. Dalam depresi saya ditengah tugas, saya pernah berfikir "pemerintah kayaknya sengaja ni bikin mahasiswa sibuk sama tugas tugasnya biar ga mikirin negara lagi, biar nggak ngerecokin pemerintah lagi" pikir saya. tapi ini seperti nyata, universitas tempat saya menimba ilmu saat ini merupakan universitas yang paling diperhitungkan, alumninya banyak yang jadi "orang". Namun apa, saat kebijakan pemerintah dirasa merugikan kita, mahasiswanya diam aja. Nggak ada suara, kami terlalu sibuk memikirkan hidup kami diperkuliahan, terlalu sibuk praktikum ini itu, eksperimen bikin beton dicampur ini itu, bikin sistem transportasi ini itu, yang selanjutnya cuma jadi tumpukan paper yang nggak berharga dan nggak direalisasikan. iya, kami kembali dipenjara. lagi lagi dan lagi... sistem
Tak jarang kita melihat pengusaha pengusaha sukses, aktivis lingkungan yang benar benar bekerja dan beraksi untuk lingkungannya, mereka bukan dari kalangan berpendidikan. Mereka tidak memerlukan kurikulum ala ala untuk belajar. Mereka belajar dari apa kebutuhan masyarakat? apa masalah yang ada di masyarakat? dan apa yang bisa mereka lakukan untuk masyarakat?
Dan lagi, menurut saya saat ini sekolah hanya sekadar status sosial. "oh dia hebat ya bisa kuliah" "wah dia pinter ya bisa esdua" dan sebagainya. Dan orang orang akan malu dan merasa dipandang sebelah mata bila tidak mengenyam bangku sekolah. padahal sudah terbukti, bangku sekolah bukan jaminan untuk kita hidup layak dan berkarya untuk bangsa.namun iya, lagi lagi, sekolah hanyalah status sosial dan masalah gengsi.
Dan beginilah, kita mulai kehilangan generasi muda untuk memikirkan masa depan bangsa. Setelah ini, jangan tanyakan saya, saya bisa apa untuk negara, karena saya adalah salah satu korban dari sebuah sistem yang sudah dikotak kotakkan. Saya hanya salah satu korban yang mau mengakui kegagalan sistem ini. terimakasih
School ruins learning. In school, learning is all about memorizing things, answering questions, and writing loads of crap on topics you don't care about
*sebenernya gue nulis apaan sih -__-
No comments:
Post a Comment