Pages

Welcome!

Wednesday, 1 July 2015

Begitulah, dan berfikirlah

Hay. Ini menyoal tentang agama. Mumpung lg ramadhan dan insyaAllah iman sedang mencapai puncak kejayaan (insyaAllah aamiin) ijinkan saya menuturkan pendapat saya tentang kaum mayoritas di indonesia, dalam hubungannya dengan kaum minoritas yang sering kita sebut non-muslim.

"Kaum non-muslim di Indonesia merupakan kaum minoritas di dunia yang paling berlapang dada" Dan ya, memang benar. Kita (muslim) sebagai kaum mayoritas di Indonesia sering kali salah kaprah memaknai toleransi dan menghargai. Kita terus saja menuntut untuk dihargai. Contohnya pas bulan puasa ini sering kali mendengar keluhan "masak mereka makan seenaknya di warung warung padahal kan ini bulan puasa, harusnya mereka menghormati kita dong" hell-oooo!! Kita sama sama punya hak. Mereka ber hak untuk makan, mengisi energi mereka, karena dalam kepercayaannya, dalam agamanya, tak mengajarkan puasa di bulan ramadhan. Jadi sah sah saja mereka mau makan seenak jidat mereka. Yang harusnya menghargai itu adalah kita. Toh mereka hanya melakukan rutinitas mereka, makan siang, jadi, apa salahnya? Begitulah. Dan berfikirlah..


Mereka adalah kaum minoritas yang sangat berlapang dada. Suatu saat, ada dari kaumnya yang kemudian memeluk islam. Di berita berita infotaiment, ramai betul dibicarakan. Semuanya bergembira ria. Lalu pernahkah terfikir bagaimana perasaan kaum non muslim dengan adanya salah satu kaum mereka yang meninggalkan agamanya? Pernahkah kita berfikir, jika kita ada diposisi mereka. Dimana ada yang lepas jilbab atau murtad lalu kaum non muslim bersuka cita, pastilah kita akan sedih dan marah dibuatnya. Tp tenang saja. Itu sepertinya mustahil terjadi di Indonesia. Karena kita adalah negara yang TOLERAN TERHADAP KAUM MAYORITAS.  Begitulah. Dan berfikirlah...

Lalu lagi. Saya sempat kaget dan tak enak hati, tatkala teman saya yang beragama kristen 'keceplosan' mengucapkan salam. "Assalamualaikum" lalu reflek saya jawab "waalaikumsalam" lalu dengan cepat Ia menyahut "eeh maaf maaf, nggk usah dijawab ciiil. Kan kalian nggak boleh jawab salam dr kami. Maaf yaa td keceplosan" cerocosnya panik. Saya sempat terdiam beberapa detik, tak enak hati tepatnya. Dan miris. Assalamualaikum berarti semoga keselamatan tercurah pada engkau. Itu doa kan? Doa itu baik kan? Lalu apa salahnya kita mendoakan balik orang yang mendoakan kita. Apa harus kita menjawab salam kepada mereka yang non-muslim dengan "azabmualaikum"?? Yang artinya semoga azab tercurah pada engkau? Begitulah. Dan berfikirlah...


Lalu saya ingat lagi perkataan dari Sabrang, anak dari cak nun "nek kowe cen meh membenci suatu kaum, benci sing adoh sisan. Ojo benci karo yahudi ojo benci karo kristen. Agama kae podo podo percoyo Tuhan" begitulah. Mari berfikir. Syarat masuk islam adalah? SYAHADAT! arti syahadat apasih? Mengakui bahwa Allah itu satu, dan Muhammad itu Nabi. Sekarang, tanya saja pada saudara kita yang kristen "apakah kamu percaya bahwa mihammad itu nabi/rasul?" "Apakah Tuhanmu Allah?". Mereka percaya bahwa muhamma itu nabi, dan Tuhan mereka Allah. Lalu, apa bedanya? Begitulah. Agama itu luas, jangan dipersempit. Begitulah. Dan berfikirlah...


"Carilah apa yang benar, bukan siapa yang benar" ada sebuah bunga, dan ada beberapa orang yang memfoto, 1 menggunakan nokia 3370 yang satunya menggunakan Iphone 6. Apa yang berbeda? Mungkin yg satunya agak bluur dan yang satunya kualitas gambarnya maksimal. Ada yang memfoto dari samping ada yang dari atas, atau bahkan dari bawah. Lalu kita diminta melihat foto itu, kemudian mendeskripsikannya, deskripsinya beda beda, karena angel yang diambil memang berbeda. Tapi itu TETAPLAH BUNGA. Jadi carilah BUNGA itu, jangan persoalkan dr sudut pandang mana kita melihat. Tp semuanya tak akan sempurna pasti. Kalau kita memang ingin mendalami BUNGA itu, maka kita harus jadi BUNGA. Tapi ketika kita menjadi bunga, apakah kita ingat bahwa kita ingin mencari kebenaran BUNGA itu? Begitulah. Dan berfikirlah...

Berdamailah dengan hidup, dan hiduplah dengan damai. Begitulah. Dan berfikirlah.

Maafkan jika pandangan saya mungkin tak sejalan dengan Anda. Saya memang lebih banyak menggunakan sudut pandang sosial ketimbang agama dalam tulisan ini. Sekali lagi mohon maaf jika tidak berkenan, semoga bisa bermanfaat dan membuat kita membuka mata kita lebih lebar. Bahwa, berdamai dengan perbedaan itu menyenangkan.

No comments:

Post a Comment

Design by | SweetElectric